Failure is the mother of Success

Hari rabu kemarin adalah jadwal saya dan teman-teman sekantor bermain futsal di dekat kantor. Dan ini merupakan sebuah rutinitas biasa dengan rekan sekantor.

Hal yang special pada hari itu adalah saya mencetak gol pertama saya bermain futsal. Proses terjadinya pun lumayan indah, diawali dengan operan-operan apik teman-teman, dan kebetulan saya berlari ke daerah lawan yang tidak dijaga, dan teman pun melihat saya tak dijaga, dioper bolanya ke saya, dan dengan sentuhan yang manis, saya dapat mencetak gol pada hari itu.

Sebuah permainan yang cukup apik. Tapi dalam kesempatan kali ini, bukan mekanisme permainan yang dibahas, namun pelajaran dalam bermain futsal yang akan saya angkat jadi tema. Hal yang menarik dari bermain futsal kemarin, adalah ketika saya belum mencetak gol, banyak pikiran negatif yang berkecamuk dalam pikiran saya. Mengingat saya, termasuk pemain yang belum memiliki skill bermain bola yang mumpuni, ketika bermain futsal, saya sering gagal menerima bola. Gagal meneruskan bola. Gagal menghadang lawan. Hal tersebut kadang membuat diri minder untuk tidak menerima bola, ataupun menghadang lawan. Tapi, saya mencoba tepis pikiran itu, saya pikir kesuksesan adalah hasil dari rentetan kegagalan yang terus kita perbaiki. Sehingga saya memutuskan untuk lebih aktif lagi menerima operan teman, lebih aktif lagi berlari mencari ruang bebas, lebih aktif lagi menghadang lawan, dan tentu saja lebih aktif lagi mencetak gol. Dan hasil pun saya peroleh, saya mencetak gol pada hari itu.

Jika dipikir lebih dalam lagi, hidup itu seperti bermain bola. Kita pasti gagal mengoper bola, gagal mentacklling lawan jauh lebih banyak daripada gol yang kita cetak. Tapi hanya tim terus berusaha menyambung-nyambungkan operan-operan menjadi sebuah gol adalah pemenangnya. Begitu gagal mengoper, perbaiki lagi begitu mendapatkan bola. Terus mencoba dengan banyak cara, hingga berbuah gol dan kemenangan.

Yang kalah adalah yang menyikapi kesalahan dengan mental negatif. Kegagalan mengoper jadi membuat diri takut menerima bola. Tak mampu menerima bola atau meneruskan operan membuat diri jadi pasif. Hal itu sempat terlintas dalam hati, namun saya yakin kesuksesan itu hasil rentetan kegagalan yang kita raih dan pelajari untuk diperbaiki. Pada akhirnya nanti, hasillah yang akan membuktikan.

Bagaimana menurut Anda?

  • Share/Bookmark